Selasa, 21 Oktober 2025

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani

 


"Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tutu Wuri Handayani"

Pastel on Canvas
50cm x 60cm
Agustim Saptono Haji
Oktober 2025

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tutu Wuri Handayani adalah pedoman Ki Hajar Dewamtara yang menjadi acuan di dunia pendidikan Indonesia, saya mengangkat ini sebagai judul karya bukan mengacu pada fisik karya  ya, melainkan pada proses berkaryanya. Jika mengacu pada karya fisik, karya saya jauh dari kata sempurna, karena ini adalah kali pertama saya berkarya menggunakan kanvas setelah lebih dari 20 tahun saya tidak berkarya menggunakan kanvas. Proses berkaya menjadi acuan judul karya adalah karena kegelisahan saya sebagai seorang pendidik yang melihat KBM dunia pendidikan sekarang sudah bergeser dari Kegiatan Belajar Mengajar menjadi Kegiatan Belajar Memerintah. Hal ini karena guru hanya memberikan perintah tanpa memberikan contoh, beberapa guru memberikan tugas tanpa mencoba terlebih dahulu, apakah tugas ini sulit atau tidak. Jika siswa menemukan kendala, jawaban yang keluar dari guru adalah "cari saja di Google". membebaskan siswa mengakses internet bisa berdampak positif, bisa juga negatif. disinilah guru seharusnya mencoba terlebih dahulu tugas yang akan diberikan, dengan asumsi, jika saya bisa, maka siswa mungkin bisa, jika saya tidak bisa, apalagi siswa?. Jika siswa mendapatkan kendala, guru bisa memberikan solusi. Sehingga saya berasumsi bahwa guru hanya mengacu pada Tut Wuri Handayani, namun melupakan Ing Ngarso Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso. Berkarya bersama siswa, pameran bersama siswa, ikut merasakan kesulitan dan kendala, ikut merasakan tekanan yang sama, lalu berikan contoh bagaimana mencari solusi sehingga memecahkan masalah tersebut.
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani

Selasa, 07 Oktober 2025

Harvest moon

Hari ini, langit Indonesia diterangi bulan super alias supermoon yang punya nama lain harvest moon. Fenomena ini tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja, terlebih jika kamu merupakan seorang pencinta astronomi.

Mengapa puncak transformasi bulan alias fase purnama Oktober 2025 disebut supermoon? Dirujuk dari Science NASA, supermoon terjadi ketika bulan purnama berada di titik terdekat antara Bumi dengan Bulan.

Bukankah jarak antara Bumi dan Bulan selalu konstan? Lintasan Bulan untuk mengorbit Bumi tidaklah berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Oleh karena itu, ada titik jauh (apogee) dan titik dekat (perigee) Bulan dengan Bumi.

Nah, ketika purnama terjadi saat Bulan berada di perigee, muncullah sebutan supermoon. Dalam kondisi ini, bulan terlihat 14 persen lebih besar ketimbang biasanya. Cahaya supermoon juga tampak lebih terang.

Supermoon 7 Oktober 2025 mencapai puncak kecerahan pada pukul 10.47 WIB.

Berhubung pukul 10.47 WIB tanggal 7 Oktober 2025 terjadi pagi menuju siang hari di Indonesia, kita dapat coba melihatnya lagi pada malam harinya. Bulan tetap bersinar lebih terang dari pada biasanya.

Setelah 7 Oktober, Supermoon 2025 akan terjadi lagi pada 5 November dan 4 Desember mendatang.

Berdasar keterangan dalam dokumen unggahan BMKG Kalimantan Barat bertajuk 'Fase-Fase Bulan dan Jarak Bumi-Bulan pada Tahun 2025', supermoon tanggal 7 Oktober terjadi pukul 10.47 WIB. Saat itu, jarak Bumi dengan Bulan terpaut 361.458 kilometer.

Waktu terbaik untuk menyaksikannya, seperti dikabarkan oleh Time Magazine, adalah pada malam tanggal 6 Oktober. Tepatnya, pada 6 Oktober 2025, pukul 11.47 PM Eastern Time (ET), supermoon memantulkan cahaya paling terangnya.

Dilansir Savvy Time World Clock, perbedaan waktu ET dan Waktu Indonesia Barat (WIB) adalah 11 jam. Jadi, bila dikonversi, 11.47 PM ET 6 Oktober 2025 jatuh pada pukul 10.47 WIB tanggal 7 Oktober 2025.

Tidak perlu risau, kita masih tetap bisa menyaksikan nyala terangnya pada malam-malam setelah itu. Terkhusus, pada tanggal 8 Oktober 2025, pukul 19.35 WIB. Pada waktu itu, Bulan ada di titik terdekat alias perigee. Jaraknya hanya terpisah sejauh 359.819 kilometer saja.

Kenapa Supermoon 7 Oktober 2025 Disebut Harvest Moon?

Dikutip dari The Old Farmer's Almanac, penamaan harvest moon berkaitan erat dengan ekuinoks (equinox) musim gugur. Oleh karena itu, Bulan yang mendapat julukan harvest moon berubah-ubah tiap tahunnya.

Mudahnya, bulan purnama yang terjadi paling dekat dengan momentum ekuinoks musim gugur disebut harvest moon. Dengan demikian, harvest moon mungkin terjadi pada rentang September atau Oktober.

Tahun ini, menurut informasi dari Sky at Night Magazine, ekuinoks musim gugur terjadi pada 22 September 2025. Atas acuan itu, maka purnama Oktober 2025 yang berhak meraih julukan harvest moon daripada purnama September tanggal 7 September lalu. Sebab, jarak ekuinoks-nya lebih dekat ke bulan purnama Oktober.

Lantas kenapa disebut harvest moon yang secara harfiah berarti 'bulan panen'? Nah, pada beberapa malam, Bulan muncul di langit malam segera setelah Matahari terbenam. Dengan demikian, pada awal malam, Bulan sudah memberikan sinar terangnya.

Kondisi ini memampukan para petani untuk segera memanen tanaman. Waktu tambahan kemunculan cahaya bulan inilah yang kemudian membantu proses panen sehingga disebut harvest moon.

Ada Berapa Supermoon Setiap Tahun?

Dilihat dari laman Natural History Museum, supermoon bukanlah fenomena langka. Setiap tahun, biasanya ada 3 atau 4 supermoon dari total 12-13 bulan purnama. Seringnya, supermoon terjadi berturut-turut selama 2-5 bulan purnama.

"Saat supermoon, Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi. Biasanya, ini berlangsung selama 2 hingga 5 bulan purnama sehingga terjadi beberapa supermoon berturut-turut. Setelah itu, Bulan bergerak ke bagian orbitnya yang lebih jauh," jelas Professor Sara Russell, seorang peneliti ilmu planet.

Tahun ini, terdapat total 3 supermoon. Setelah Oktober, fenomena alam yang menakjubkan ini bakal terjadi lagi pada November-Desember mendatang. Berikut jadwal dan jaraknya dari Bumi:

Supermoon November: 5 November 2025 pukul 20.19 WIB. Jarak 356.980 km dari Bumi.

Supermoon Desember: 4 Desember 2025 pukul 06.14 WIB. Jarak 357.219 km dari Bumi.

Nah, itulah pembahasan lengkap mengenai supermoon 7 Oktober 2025 dan waktu terbaik menyaksikannya. Semoga bermanfaat!

Rabu, 20 Agustus 2025

Pak, kelonin...


Setiap mau tidur, Adiba selalu bilang "pak, kelonin"

Awalnya saya pikir, ini cuma fase.Anak kecil, mau dimanja emang gitu kan?
Pengen tidur bareng orangtua.
Saya sempet berpikir, “Duh, kamu udah gede, masa masih minta dikelonin tiap malam?”

Sampai suatu malam, pas saya udah setengah berdiri dari kasur, dia pegang tangan saya sambil bilang pelan:

“Kalau bapak ninggalin dede pas tidur, dede ngerasa sendiri banget. Kayak bapak udah nggak sayang dede lagi.”

Saya langsung diam.
Bener-bener… nggak nyangka.
Ternyata di balik permintaan sederhana itu, ada rasa takut ditinggal.
Ada perasaan yang nggak bisa dia ungkapin dengan jelas…
Dan satu-satunya cara dia bisa ‘nahan’ saya ya… dengan minta ditemenin sebelum tidur.

Kadang kita suka lupa… bahwa anak-anak itu belum punya cukup kosa kata buat nyampaiin isi hati mereka.
Yang mereka bisa, ya cuma:
“pak, temenin dong…”
“pak, tidur di sini ya…”
“pak, jangan tinggalin dede…”

Bukan karena mereka manja.
Tapi karena mereka butuh rasa aman.
Dan rasa aman itu (buat anak-anak) bentuknya adalah hadirnya orang tua.

Bahkan cuma 10-15 menit nemenin sebelum tidur, itu bisa jadi bekal besar buat perkembangan emosinya.

Riset menunjukkan: anak yang merasa "dilihat" dan "ditemani" saat momen transisi (kayak mau tidur), cenderung tumbuh lebih percaya diri, lebih tenang, dan punya hubungan yang lebih dekat dengan orang tuanya.

Jadi malam itu, saya batal pergi dari kamar.
Saya peluk dia, dan malam itu jadi pelajaran buat saya sendiri:

Kadang, permintaan remeh dari anak….
Adalah sinyal penting yang perlu kita dengar dengan hati...

Senin, 18 Agustus 2025

ADIKSIMBA


ADIKSIMBA adalah singkatan dari kata tanya dalam bahasa Indonesia yang digunakan untuk mengumpulkan informasi, terutama dalam konteks berita. Singkatan ini merujuk pada: Apa, DImana, Kapan, SIapa, Mengapa, dan BAgaimana. Dalam bahasa Inggris, ADIKSIMBA dikenal sebagai 5W+1H, yaitu What, Where, When, Who, Why, and How.

ADIKSIMBA digunakan untuk memastikan sebuah berita atau informasi mencakup semua aspek penting dan memberikan pemahaman yang lengkap bagi pembaca atau pendengar.

Berikut adalah penjelasan lebih rinci dari masing-masing unsur ADIKSIMBA:

Apa: Menanyakan tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi.
Dimana: Menanyakan tentang tempat kejadian peristiwa itu berlangsung.
Kapan: Menanyakan tentang waktu terjadinya peristiwa.
Siapa: Menanyakan tentang orang-orang yang terlibat dalam peristiwa.
Mengapa: Menanyakan tentang alasan atau penyebab terjadinya peristiwa.
Bagaimana: Menanyakan tentang proses atau cara peristiwa itu terjadi.

Dengan menggunakan unsur ADIKSIMBA, sebuah berita atau informasi akan menjadi lebih jelas, lengkap, dan mudah dipahami.

Berikut adalah contoh penerapan ADIKSIMBA dengan pengambilan gambar metode EDFAT

Entire





DETAIL




Frame





Angle




Time





Narasi ADIKSIMBA (5W 1H)

    Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2024 untuk Indonesia belum dirilis. Namun, berdasarkan hasil PISA sebelumnya, Indonesia secara konsisten menunjukkan skor rendah dalam literasi, matematika, dan sains. PISA 2022, yang dirilis pada Desember 2023, menunjukkan penurunan skor dibandingkan tahun 2018, terutama dalam literasi membaca. Meskipun ada peningkatan peringkat, skor rata-rata siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) dan skor literasi membaca terendah di antara tahun-tahun sebelumnya. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggalakkan program Literasi sekolah. Untuk mendukung program Dinas Pendidikan ini SMKN 9 Jakarta menyambut dengan Program Selasa Literasi.
    Selasa Literasi adalah sebuah program literasi SMKN 9 Jakarta yang bertujuan untuk meningkatkan minat literasi siswa siswi SMKN 9 Jakarta. Program ini di inisiasi oleh TIM LITERASI yang terdiri dari Kepala Perpustakaan, pustakawan dan guru Bahasa Indonesia dan di dukung penuh oleh seluruh sivitas SMKN 9 Jakarta. Setiap Selasa pagi, seluruh sivitas berkumpul di lapangan untuk membaca buku dengan ketentuan bergantaian tiap bulannya antara buku fiksi dan buku non fiksi. Selasa Literasi ini dilaksanakan setiap Selasa pagi selama 1 jam pelajaran di lapangan Sekolah dan di akhir kegiatan tiap minggunya, 2 siswa secara bergantian menjelaskan apa yang telah dibacanya di depan peserta Selasa Literasi. Dengan program Selasa Literasi ini, diharapkan minat baca siswa siswi SMKN 9 Jakarta meningkat dan juga skor PISA di tahun depan bisa lebih baik lagi, salam Literasi.

Memahami Metode EDFAT Dalam Foto Jurnalistik

Para pendukung legalisasi aborsi bentrokan dengan polisi anti huru hara pada saat demonstrasi dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional, di Mexico City, Meksiko. Foto: VICTORIA RAZO / AFP


Fotografi menjadi bukti pencapaian peradaban manusia dengan menyebar berita secara akurat, dan karenanya berperan aktif dalam membentuk pengetahuan dunia baru dan perkembangan digital. Fotografer harus memahami cara komunikasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Dalam foto jurnalistik penting untuk melatih kemampuan untuk melihat sesuatu dengan rinci.


Demonstran berpelukan di tengah bentrokan pendukung legalisasi aborsi dengan polisi anti huru hara pada saat demonstrasi dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional, di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS


Ada metode yang memudahkan fotografer untuk memperkaya komposisi foto. Metode yang dikenal dengan sebutan EDFAT ini diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Mass Communication, Arizona State University.
EDFAT adalah singkatan dari Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time. Metode ini membantu kita untuk akrab dengan lingkungan dan juga melatih bagaimana cara pandang melihat sesuatu dengan detail.


Petugas polisi melindungi diri dengan perisai mereka selama protes untuk memperingati Hari Aborsi Aman Internasional di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS


Metode EDFAT juga membantu menghasilkan foto dengan teratur, sehingga foto tersebut menghasilkan rangkaian cerita yang memudahkan orang memahaminya.

1. Entire
Entire atau dikenal juga sebagai established shot, yaitu keseluruhan pemotretan sebuah tempat atau kejadian. Tahapan ini bertujuan untuk membuat rangkaian dari sebuah foto.


Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di San Salvador, Meksiko. Foto: Leonardo Munoz / AFP


Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: ULISES RUIZ / AFP

2. Detail
Detail adalah hal-hal rinci yang ada di suatu lokasi atau peristiwa. Jika pada entire mengambil gambar luas dan umum, pada detail dapat berupa simbol, benda, atau mimik subjek.

Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di San Salvador, Meksiko. Foto: Leonardo Munoz / AFP

Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Monterrey, Meksiko. Foto: Jorge Lopez/REUTERS


3. Frame
Frame atau pembingkaian adalah bagaimana cara kita menempatkan objek atau subyek di dalam foto.


Seorang petugas polisi melihat dari balik perisai yang rusak saat bentrokan dengan pendukung legalisasi aborsi dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS


4. Angle
Angle atau sudut pengambilan menentukan dari arah mana kita akan mengambil suatu foto. Berbagai macam angle bisa kita coba gunakan saat memotret subyek atau objek.
Eye level view adalah angle normal yang mewakili posisi melihat manusia. Low angle menunjukkan angle lebih rendah dari eye level view, sedangkan high angle menunjukkan angle yang lebih tinggi dari angle normal.



Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: ULISES RUIZ / AFP

Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: ULISES RUIZ / AFP


5. Time
Time atau waktu pengambilan memberikan variasi terhadap foto yang bisa kita hasilkan. Time juga bagaimana kemampuan dari fotografer dalam menangkap sebuah adegan atau peristiwa sehingga menghasilkan foto yang kuat dan dramatis.


Pendukung legalisasi aborsi melempar molotov ke arah polisi anti huru hara saat unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: VICTORIA RAZO / AFP

Petugas polisi mengeluarkan api saat protes untuk memperingati Hari Aborsi Aman Internasional di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS