Selasa, 07 Oktober 2025

Harvest moon

Hari ini, langit Indonesia diterangi bulan super alias supermoon yang punya nama lain harvest moon. Fenomena ini tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja, terlebih jika kamu merupakan seorang pencinta astronomi.

Mengapa puncak transformasi bulan alias fase purnama Oktober 2025 disebut supermoon? Dirujuk dari Science NASA, supermoon terjadi ketika bulan purnama berada di titik terdekat antara Bumi dengan Bulan.

Bukankah jarak antara Bumi dan Bulan selalu konstan? Lintasan Bulan untuk mengorbit Bumi tidaklah berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Oleh karena itu, ada titik jauh (apogee) dan titik dekat (perigee) Bulan dengan Bumi.

Nah, ketika purnama terjadi saat Bulan berada di perigee, muncullah sebutan supermoon. Dalam kondisi ini, bulan terlihat 14 persen lebih besar ketimbang biasanya. Cahaya supermoon juga tampak lebih terang.

Supermoon 7 Oktober 2025 mencapai puncak kecerahan pada pukul 10.47 WIB.

Berhubung pukul 10.47 WIB tanggal 7 Oktober 2025 terjadi pagi menuju siang hari di Indonesia, kita dapat coba melihatnya lagi pada malam harinya. Bulan tetap bersinar lebih terang dari pada biasanya.

Setelah 7 Oktober, Supermoon 2025 akan terjadi lagi pada 5 November dan 4 Desember mendatang.

Berdasar keterangan dalam dokumen unggahan BMKG Kalimantan Barat bertajuk 'Fase-Fase Bulan dan Jarak Bumi-Bulan pada Tahun 2025', supermoon tanggal 7 Oktober terjadi pukul 10.47 WIB. Saat itu, jarak Bumi dengan Bulan terpaut 361.458 kilometer.

Waktu terbaik untuk menyaksikannya, seperti dikabarkan oleh Time Magazine, adalah pada malam tanggal 6 Oktober. Tepatnya, pada 6 Oktober 2025, pukul 11.47 PM Eastern Time (ET), supermoon memantulkan cahaya paling terangnya.

Dilansir Savvy Time World Clock, perbedaan waktu ET dan Waktu Indonesia Barat (WIB) adalah 11 jam. Jadi, bila dikonversi, 11.47 PM ET 6 Oktober 2025 jatuh pada pukul 10.47 WIB tanggal 7 Oktober 2025.

Tidak perlu risau, kita masih tetap bisa menyaksikan nyala terangnya pada malam-malam setelah itu. Terkhusus, pada tanggal 8 Oktober 2025, pukul 19.35 WIB. Pada waktu itu, Bulan ada di titik terdekat alias perigee. Jaraknya hanya terpisah sejauh 359.819 kilometer saja.

Kenapa Supermoon 7 Oktober 2025 Disebut Harvest Moon?

Dikutip dari The Old Farmer's Almanac, penamaan harvest moon berkaitan erat dengan ekuinoks (equinox) musim gugur. Oleh karena itu, Bulan yang mendapat julukan harvest moon berubah-ubah tiap tahunnya.

Mudahnya, bulan purnama yang terjadi paling dekat dengan momentum ekuinoks musim gugur disebut harvest moon. Dengan demikian, harvest moon mungkin terjadi pada rentang September atau Oktober.

Tahun ini, menurut informasi dari Sky at Night Magazine, ekuinoks musim gugur terjadi pada 22 September 2025. Atas acuan itu, maka purnama Oktober 2025 yang berhak meraih julukan harvest moon daripada purnama September tanggal 7 September lalu. Sebab, jarak ekuinoks-nya lebih dekat ke bulan purnama Oktober.

Lantas kenapa disebut harvest moon yang secara harfiah berarti 'bulan panen'? Nah, pada beberapa malam, Bulan muncul di langit malam segera setelah Matahari terbenam. Dengan demikian, pada awal malam, Bulan sudah memberikan sinar terangnya.

Kondisi ini memampukan para petani untuk segera memanen tanaman. Waktu tambahan kemunculan cahaya bulan inilah yang kemudian membantu proses panen sehingga disebut harvest moon.

Ada Berapa Supermoon Setiap Tahun?

Dilihat dari laman Natural History Museum, supermoon bukanlah fenomena langka. Setiap tahun, biasanya ada 3 atau 4 supermoon dari total 12-13 bulan purnama. Seringnya, supermoon terjadi berturut-turut selama 2-5 bulan purnama.

"Saat supermoon, Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi. Biasanya, ini berlangsung selama 2 hingga 5 bulan purnama sehingga terjadi beberapa supermoon berturut-turut. Setelah itu, Bulan bergerak ke bagian orbitnya yang lebih jauh," jelas Professor Sara Russell, seorang peneliti ilmu planet.

Tahun ini, terdapat total 3 supermoon. Setelah Oktober, fenomena alam yang menakjubkan ini bakal terjadi lagi pada November-Desember mendatang. Berikut jadwal dan jaraknya dari Bumi:

Supermoon November: 5 November 2025 pukul 20.19 WIB. Jarak 356.980 km dari Bumi.

Supermoon Desember: 4 Desember 2025 pukul 06.14 WIB. Jarak 357.219 km dari Bumi.

Nah, itulah pembahasan lengkap mengenai supermoon 7 Oktober 2025 dan waktu terbaik menyaksikannya. Semoga bermanfaat!

Rabu, 20 Agustus 2025

Pak, kelonin...


Setiap mau tidur, Adiba selalu bilang "pak, kelonin"

Awalnya saya pikir, ini cuma fase.Anak kecil, mau dimanja emang gitu kan?
Pengen tidur bareng orangtua.
Saya sempet berpikir, “Duh, kamu udah gede, masa masih minta dikelonin tiap malam?”

Sampai suatu malam, pas saya udah setengah berdiri dari kasur, dia pegang tangan saya sambil bilang pelan:

“Kalau bapak ninggalin dede pas tidur, dede ngerasa sendiri banget. Kayak bapak udah nggak sayang dede lagi.”

Saya langsung diam.
Bener-bener… nggak nyangka.
Ternyata di balik permintaan sederhana itu, ada rasa takut ditinggal.
Ada perasaan yang nggak bisa dia ungkapin dengan jelas…
Dan satu-satunya cara dia bisa ‘nahan’ saya ya… dengan minta ditemenin sebelum tidur.

Kadang kita suka lupa… bahwa anak-anak itu belum punya cukup kosa kata buat nyampaiin isi hati mereka.
Yang mereka bisa, ya cuma:
“pak, temenin dong…”
“pak, tidur di sini ya…”
“pak, jangan tinggalin dede…”

Bukan karena mereka manja.
Tapi karena mereka butuh rasa aman.
Dan rasa aman itu (buat anak-anak) bentuknya adalah hadirnya orang tua.

Bahkan cuma 10-15 menit nemenin sebelum tidur, itu bisa jadi bekal besar buat perkembangan emosinya.

Riset menunjukkan: anak yang merasa "dilihat" dan "ditemani" saat momen transisi (kayak mau tidur), cenderung tumbuh lebih percaya diri, lebih tenang, dan punya hubungan yang lebih dekat dengan orang tuanya.

Jadi malam itu, saya batal pergi dari kamar.
Saya peluk dia, dan malam itu jadi pelajaran buat saya sendiri:

Kadang, permintaan remeh dari anak….
Adalah sinyal penting yang perlu kita dengar dengan hati...

Senin, 18 Agustus 2025

ADIKSIMBA


ADIKSIMBA adalah singkatan dari kata tanya dalam bahasa Indonesia yang digunakan untuk mengumpulkan informasi, terutama dalam konteks berita. Singkatan ini merujuk pada: Apa, DImana, Kapan, SIapa, Mengapa, dan BAgaimana. Dalam bahasa Inggris, ADIKSIMBA dikenal sebagai 5W+1H, yaitu What, Where, When, Who, Why, and How.

ADIKSIMBA digunakan untuk memastikan sebuah berita atau informasi mencakup semua aspek penting dan memberikan pemahaman yang lengkap bagi pembaca atau pendengar.

Berikut adalah penjelasan lebih rinci dari masing-masing unsur ADIKSIMBA:

Apa: Menanyakan tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi.
Dimana: Menanyakan tentang tempat kejadian peristiwa itu berlangsung.
Kapan: Menanyakan tentang waktu terjadinya peristiwa.
Siapa: Menanyakan tentang orang-orang yang terlibat dalam peristiwa.
Mengapa: Menanyakan tentang alasan atau penyebab terjadinya peristiwa.
Bagaimana: Menanyakan tentang proses atau cara peristiwa itu terjadi.

Dengan menggunakan unsur ADIKSIMBA, sebuah berita atau informasi akan menjadi lebih jelas, lengkap, dan mudah dipahami.

Berikut adalah contoh penerapan ADIKSIMBA dengan pengambilan gambar metode EDFAT

Entire





DETAIL




Frame





Angle




Time





Narasi ADIKSIMBA (5W 1H)

    Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2024 untuk Indonesia belum dirilis. Namun, berdasarkan hasil PISA sebelumnya, Indonesia secara konsisten menunjukkan skor rendah dalam literasi, matematika, dan sains. PISA 2022, yang dirilis pada Desember 2023, menunjukkan penurunan skor dibandingkan tahun 2018, terutama dalam literasi membaca. Meskipun ada peningkatan peringkat, skor rata-rata siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) dan skor literasi membaca terendah di antara tahun-tahun sebelumnya. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menggalakkan program Literasi sekolah. Untuk mendukung program Dinas Pendidikan ini SMKN 9 Jakarta menyambut dengan Program Selasa Literasi.
    Selasa Literasi adalah sebuah program literasi SMKN 9 Jakarta yang bertujuan untuk meningkatkan minat literasi siswa siswi SMKN 9 Jakarta. Program ini di inisiasi oleh TIM LITERASI yang terdiri dari Kepala Perpustakaan, pustakawan dan guru Bahasa Indonesia dan di dukung penuh oleh seluruh sivitas SMKN 9 Jakarta. Setiap Selasa pagi, seluruh sivitas berkumpul di lapangan untuk membaca buku dengan ketentuan bergantaian tiap bulannya antara buku fiksi dan buku non fiksi. Selasa Literasi ini dilaksanakan setiap Selasa pagi selama 1 jam pelajaran di lapangan Sekolah dan di akhir kegiatan tiap minggunya, 2 siswa secara bergantian menjelaskan apa yang telah dibacanya di depan peserta Selasa Literasi. Dengan program Selasa Literasi ini, diharapkan minat baca siswa siswi SMKN 9 Jakarta meningkat dan juga skor PISA di tahun depan bisa lebih baik lagi, salam Literasi.

Memahami Metode EDFAT Dalam Foto Jurnalistik

Para pendukung legalisasi aborsi bentrokan dengan polisi anti huru hara pada saat demonstrasi dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional, di Mexico City, Meksiko. Foto: VICTORIA RAZO / AFP


Fotografi menjadi bukti pencapaian peradaban manusia dengan menyebar berita secara akurat, dan karenanya berperan aktif dalam membentuk pengetahuan dunia baru dan perkembangan digital. Fotografer harus memahami cara komunikasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Dalam foto jurnalistik penting untuk melatih kemampuan untuk melihat sesuatu dengan rinci.


Demonstran berpelukan di tengah bentrokan pendukung legalisasi aborsi dengan polisi anti huru hara pada saat demonstrasi dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional, di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS


Ada metode yang memudahkan fotografer untuk memperkaya komposisi foto. Metode yang dikenal dengan sebutan EDFAT ini diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Mass Communication, Arizona State University.
EDFAT adalah singkatan dari Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time. Metode ini membantu kita untuk akrab dengan lingkungan dan juga melatih bagaimana cara pandang melihat sesuatu dengan detail.


Petugas polisi melindungi diri dengan perisai mereka selama protes untuk memperingati Hari Aborsi Aman Internasional di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS


Metode EDFAT juga membantu menghasilkan foto dengan teratur, sehingga foto tersebut menghasilkan rangkaian cerita yang memudahkan orang memahaminya.

1. Entire
Entire atau dikenal juga sebagai established shot, yaitu keseluruhan pemotretan sebuah tempat atau kejadian. Tahapan ini bertujuan untuk membuat rangkaian dari sebuah foto.


Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di San Salvador, Meksiko. Foto: Leonardo Munoz / AFP


Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: ULISES RUIZ / AFP

2. Detail
Detail adalah hal-hal rinci yang ada di suatu lokasi atau peristiwa. Jika pada entire mengambil gambar luas dan umum, pada detail dapat berupa simbol, benda, atau mimik subjek.

Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di San Salvador, Meksiko. Foto: Leonardo Munoz / AFP

Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Monterrey, Meksiko. Foto: Jorge Lopez/REUTERS


3. Frame
Frame atau pembingkaian adalah bagaimana cara kita menempatkan objek atau subyek di dalam foto.


Seorang petugas polisi melihat dari balik perisai yang rusak saat bentrokan dengan pendukung legalisasi aborsi dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS


4. Angle
Angle atau sudut pengambilan menentukan dari arah mana kita akan mengambil suatu foto. Berbagai macam angle bisa kita coba gunakan saat memotret subyek atau objek.
Eye level view adalah angle normal yang mewakili posisi melihat manusia. Low angle menunjukkan angle lebih rendah dari eye level view, sedangkan high angle menunjukkan angle yang lebih tinggi dari angle normal.



Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: ULISES RUIZ / AFP

Para pendukung legalisasi aborsi menggelar unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: ULISES RUIZ / AFP


5. Time
Time atau waktu pengambilan memberikan variasi terhadap foto yang bisa kita hasilkan. Time juga bagaimana kemampuan dari fotografer dalam menangkap sebuah adegan atau peristiwa sehingga menghasilkan foto yang kuat dan dramatis.


Pendukung legalisasi aborsi melempar molotov ke arah polisi anti huru hara saat unjuk rasa dalam rangka Hari Aborsi Aman Internasional di Guadalaraja, Meksiko. Foto: VICTORIA RAZO / AFP

Petugas polisi mengeluarkan api saat protes untuk memperingati Hari Aborsi Aman Internasional di Mexico City, Meksiko. Foto: Carlos Jasso/REUTERS

Selasa, 29 Juli 2025

Sejarah Fotografi

Proglog

Fotografi memainkan peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, tidak hanya sebagai sarana dokumentasi, tetapi juga sebagai media komunikasi, ekspresi, dan perubahan sosial, Perkembangan fotografi saat ini sangat pesat, didorong oleh kemajuan teknologi digital, kecanggihan kamera smartphone, dan peran besar media sosial.



Fotografi dalam Desain Komunikasi Visual bukan hanya tentang mengambil gambar yang indah, tetapi juga tentang bagaimana gambar tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan, membangun identitas, dan berkomunikasi secara efektif dengan audiens.

sebelum mempelajari peneraparan dasar dasar fotograpy perlu memahami definisi dan fungsi fotografi serta sejarah fotograpi tersebut.

1.1 Definisi dan Fungsi Fotografi

Kata Fotografi diambil berasal dari bahasa Yunani, yaitu photos (cahaya) dan graphos (melukis atau menulis), sehingga secara harfiah berarti "melukis dengan cahaya.", fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek gambar. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses pembuatan lukisan dengan menggunakan media cahaya. Sebagai dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.


Prinsip fotografi adalah memfokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghasilkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Pada umumnya semua hasil karya fotografi dikerjakan dengan kamera, dan kebanyakan kamera memiliki cara kerja yang sama dengan cara kerja mata manusia. Seperti halnya mata, kamera memiliki lensa, dan mengambil pantulan cahaya terhadap suatu objek dan menjadi sebuah image.

Tetapi, sebuah kamera dapat merekam sebuah image ke dalam sebuah film dan hasilnya tidak hanya bisa dibuat permanen tetapi dapat pula diperbanyak, dan diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan mata, hanya dapat merekam image kedalam memori otak dan tidak bisa dilihat secara langsung kepada orang lain.

Fotografi dapat didefinisikan dari dua perspektif utama: teknis dan seni. Kedua perspektif ini saling melengkapi dalam menghasilkan gambar yang bermakna dan estetis.

1. Perspektif Teknis:

Dari sudut pandang teknis, fotografi adalah proses menangkap cahaya pada permukaan sensitif cahaya (film atau sensor digital) menggunakan kamera. Fokus utamanya adalah pada pengaturan dan penguasaan alat serta teknik untuk menghasilkan gambar yang tajam, terpapar dengan baik, dan sesuai dengan tujuan visual.

Elemen teknis mencakup:

Eksposure:

Eksposure (exposure) dalam fotografi adalah jumlah cahaya yang diterima oleh sensor kamera atau film saat mengambil gambar. Eksposur menentukan seberapa terang atau gelap hasil foto. Jika eksposure tidak tepat, foto bisa menjadi terlalu gelap (underexposed) atau terlalu terang (overexposed).

Kombinasi dari aperture (bukaan lensa), shutter speed (kecepatan rana), dan ISO (sensitivitas cahaya).

Untuk menghasilkan ukuran cahaya yang tepat untuk menghasilkan bayangan, digunakan bantuan alat ukur lightmeter. Setelah mendapat ukuran cahaya yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur cahaya tersebut dengan mengatur ASA (ISO Speed), diafragma (aperture), dan penggunaan filter.

Fokus:

Fokus pada kamera mengacu pada ketajaman gambar pada titik atau area tertentu dalam bingkai. Saat kamera "fokus", ia menyesuaikan lensa agar cahaya dari subjek jatuh tepat pada sensor, menghasilkan gambar yang tajam dan jelas. Komposisi: Penempatan elemen visual dalam frame (meskipun ini juga bersifat artistik).

Pencahayaan:

Pencahayaan dalam fotografi adalah elemen paling penting karena tanpa cahaya, tidak ada gambar. Pencahayaan (lighting) pada kamera mengacu pada cara cahaya mengenai subjek dan bagaimana kamera merekamnya. Cahaya memengaruhi mood, bentuk, kedalaman, dan detail dalam foto.

Peralatan:


Mencakup seluruh komponen fisik dan sistem elektronik yang memungkinkan kamera menangkap dan merekam gambar diantaran Kamera, lensa, tripod, filter, dan perangkat lunak pengeditan.

Tujuan teknis adalah mendapatkan hasil yang optimal secara kualitas gambar.

2. Perspektif Seni:

Secara artistik, fotografi adalah bentuk ekspresi visual yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan ide, emosi, suasana, atau cerita. Di sini, elemen estetika, subjektivitas, dan kreativitas memainkan peran utama.

Aspek seni mencakup:

Estetika visual:

Estetika visual pada fotografi merujuk pada cara elemen-elemen visual seperti Warna, kontras, bentuk, dan tekstur dalam sebuah foto disusun, dipadukan, dan disampaikan untuk menciptakan keindahan, harmoni, serta dampak emosional atau intelektual bagi penikmatnya. Estetika ini adalah jembatan antara aspek teknis dan artistik dalam fotografi.

Emosi dan suasana: Bagaimana foto membangkitkan perasaan atau suasana tertentu.

Narasi visual: Cerita atau pesan yang ingin disampaikan oleh fotografer.

Gaya pribadi: Pendekatan unik yang mencerminkan identitas fotografer.

Eksplorasi dan interpretasi: Kebebasan dalam memilih subjek, sudut pandang, atau teknik eksperimental.

Tujuan artistik adalah komunikasi visual dan pengalaman emosional.

Fotografi memiliki beragam fungsi, tergantung pada konteks dan tujuan penggunaannya. Berikut adalah beberapa fungsi utama fotografi dalam kehidupan pribadi, sosial, budaya, hingga profesional:

1. Fungsi Dokumentasi

Menangkap dan menyimpan momen penting dalam kehidupan pribadi (pernikahan, kelahiran, perjalanan).

Digunakan dalam bidang sejarah, arkeologi, kedokteran, dan ilmiah untuk mencatat data visual.

Contoh: Foto arsip bencana alam, dokumentasi pembangunan, rekam medis.

2. Fungsi Komunikasi

Fotografi menyampaikan pesan, ide, atau informasi tanpa kata.

Sangat efektif sebagai media komunikasi visual karena bersifat universal dan emosional.

Contoh: Foto kampanye sosial, iklan, media berita.

3. Fungsi Ekspresi dan Seni

Fotografi sebagai sarana ekspresi diri dan kreativitas.

Digunakan dalam seni rupa, galeri, atau proyek pribadi untuk menyampaikan gagasan, emosi, dan perspektif.

Contoh: Fotografi konseptual, fine art photography.

4. Fungsi Jurnalistik dan Informasi

Menyajikan fakta visual kepada publik secara cepat dan kuat.

Foto jurnalistik membantu membentuk opini publik dan dokumentasi sejarah secara real-time.

Contoh: Foto konflik, demonstrasi, bencana, olahraga.

5. Fungsi Komersial dan Bisnis

Fotografi digunakan untuk memasarkan produk, jasa, atau personal branding.

Visual yang menarik dapat meningkatkan daya tarik konsumen.

Contoh: Fotografi produk, fashion, makanan, iklan digital.

6. Fungsi Edukasi

Membantu proses belajar dengan menyajikan informasi visual.

Digunakan dalam buku pelajaran, presentasi, penelitian, dan pelatihan.

Contoh: Foto struktur tubuh manusia, proses ilmiah, eksperimen, hingga poster edukatif.

7. Fungsi Sosial dan Budaya

Menjadi alat untuk merepresentasikan identitas, tradisi, dan perubahan sosial.

Foto dapat memperkenalkan budaya atau menyuarakan isu-isu kemanusiaan.

Contoh: Foto kehidupan suku pedalaman, tradisi lokal, isu lingkungan.

1.2 Sejarah Singkat Fotografi

Perkembangan dunia fotografi memang tidak terlepas dari sejarahnya yang teramat panjang, dimulai dari masa sebelum Masehi hingga ke masa sekarang ini. Kini, fotografi telah menjadi suatu bidang yang amat populer dan dapat dipahami serta dipraktekkan dengan mudah oleh setiap orang. Keadaan seperti ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya penemuan atau inovasi yang dilakukan oleh para tokoh. Berikut ini merupakan pemaparan perkembangan fotografi dari mulai penemuan konsep kamera yang paling sederhana hingga ke era fotografi digital.

1. Camera Obscura

Camera Obscura (selanjutnya ditulis kamera obscura), berasal dari kata dalam bahasa latin yang artinya “kamar gelap‟. Disebut demikian karena pada awalnya kamera obscura memang sebuah ruangan gelap yang memiliki sebuah lensa cembung/lubang kecil di salah satu bagian sisinya.

Melalui lensa cembung/lubang kecil inilah, cahaya dari luar akan masuk dan memproyeksikan citra dari obyek/keadaan di luar, ke atas sebuah media.

Sebuah kamera obscura berbentuk ruangan, di University of North Carolina at Chapel Hill.

Area yang diberi lingkaran berwarna kuning adalah lubang kecil tempat masuknya cahaya.

Sejarah awal dari konsep pemroyeksian/pemantulan cahaya bisa ditelusuri ke tahun 336 SM. Saat itu Aristoteles (384 - 322 SM) melihat bentuk sabit yang tercipta akibat dari peristiwa gerhana matahari sebagian. Bentuk sabit itu terproyeksikan ke atas permukaan tanah, melalui lubang-lubang kecil dari sebuah ayakan. Aristoteles kemudian membuat lubang kecil pada sebuah lempengan

logam. Dan ternyata, lubang kecil pada lempengan logam tersebut memang bermanfaat sebagai jalan masuknya cahaya yang memproyeksikan citra dari luar, ke atas sebuah bidang. Peristiwa inilah yang melahirkan apa yang disebut dengan „prinsip optik‟, suatu prinsip yang sangat bermanfaat

dalam pengembangan teknologi fotografi (kamera) hingga sekarang.

Perkembangan selanjutnya dilakukan oleh seorang ilmuwan Mesir bernama Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Haitham (965 - 1039 M), atau yang lebih dikenal dengan sebutan„Al-Hazen‟. Al-Hazen adalah orang pertama yang menerapkan prinsip optik pada suatu ruangan gelap. Ruangan gelap inilah yang kemudian disebut sebagai kamera obscura.

Pada abad ke-15, seorang pelukis dan penemu terkenal, Leonardo Da Vinci (1452 - 1519 M), memanfaatkan kamera obscura untuk membantunya membuat lukisan. Ia mengatur sedemikian rupa agar proyeksi cahaya dari luar ruangan bisa jatuh tepat ke atas media lukisnya. Dengan cara itu, ia dapat menyalin citra yang terproyeksi, menjadi sebuah lukisan. Selain itu, Leonardo Da Vinci juga membuat rancangan kamera obscura berbentuk praktis yang bisa dibawa kemana-mana. Akan tetapi rancangan itu tidak sempat ia realisasikan.




Sumber : https://shotkit.com/when-were-cameras-invented/



2. Tahun 1839 (Penemuan kamera plat logam/kamera foto)

Kamera foto berarti suatu alat yang fungsinya tidak hanya memproyeksikan citra saja, tetapi juga menggambarkan citra tersebut ke atas sebuah media, secara permanen. Kamera foto merupakan hasil pengembangan dari fungsi yang sudah ada pada kamera obscura temuan Al-Hazen. Bila menelusuri sejarah penemuan kamera foto modern, maka kita akan bertemu dengan 4 orang tokoh dari abad ke-19 yang telah berjasa menunjukkan jalan menuju dunia fotografi modern.

Orang yang pertama adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis, Joseph Nicéphore Niépce. Di tahun 1820an ia melakukan eksperimen dengan kamera obscura. Niépce menyisipkan sebuah media ke dalam kamera obscura, agar citra yang terproyeksikan bisa terekam dalam media itu.




View from the Window at Le Gras, foto yang paling pertama kali dibuat.

Media yang digunakannya adalah sebuah lempengan timah yang diolesi minyak khusus. Lempengan timah ini disimpan di dalam kamera obscura dan terpapar selama 8 jam oleh sinar matahari yang cerah. Citra yang terproyeksi dan terekam pada lempengan timah itulah, yang merupakan foto tercetak pertama yang berhasil dibuat dalam sejarah umat manusia. Foto itu diberi judul “View from the Window at Le Gras”, dibuat pada tahun 1826. Tahun 1826, Joseph Nicéphore Niépce berkolaborasi dengan seorang seniman dan ahli kimia Perancis bernama Louis JM Daguerre. Niépce meninggal dunia pada tahun 1833. Tapi setelah itu Daguerre terus menyempurnakan eksperimen Niépce. Ia menemukan cara agar gambar yang dihasilkan bisa terekam dengan lebih baik.





Boulevard du Temple (1838/1839), foto pertama yang menampilkan citra manusia. Dibuat oleh Louis JM Daguerre. Daguerre kemudian menggunakan media berupa lempengan berlapis perak. Sebelum lempengan itu dipapari cahaya, pertama-tama ia mengasapinya dengan uap dari zat yodium, agar lebih sensitif terhadap paparan cahaya. Setelah dipapari cahaya selama 10 menit melalui kamera obscura, lempengan berlapis perak tersebut diangkat dan diasapi lagi oleh uap dari zat merkuri serta dicelupkan dalam larutan garam. Akhirnya muncullah gambar yang kualitasnya lebih baik daripada foto yang dihasilkan selama 8 jam melalui eksperimen Niépce. Gambar yang diambil Daguerre ini dibuat pada sekitar akhir tahun 1838 atau awal tahun 1839. Diberi judul“Boulevard du Temple” dan merupakan foto pertama yang menampilkan citra manusia di dalamnya.

Proses dan perangkat yang dipergunakan Louis JM Daguerre untuk membuat foto, kemudian dipatenkan dan diberi nama Daguerreotype‟. Daguerreotype menjadi populer dan sering dipergunakan untuk mengambil gambar dari tokoh-tokoh terkenal. Sehingga alat ini bisa disebut sebagai kamera foto pertama yang digunakan di masyarakat.


3.1888/Awal Abad 20 (Penggunaan Film)

Tahun 1888, seorang berkebangsaan Amerika Serikat bernama George Eastman,

memperkenalkan kamera yang dijual dengan harga terjangkau dan bernama “Kodak”. Kamera Kodak yang pertama ini sudah terisi dengan sebuah rollfilm hitam putih yang mampu untuk merekam 100 foto.

Perkembangan awal dari film adalah lempengan timah/logam yang dipergunakan oleh Niépce, Daguerre, dan Talbot untuk merekam gambar yang dihasilkan dari alat mereka masing-masing. Akan tetapi lempengan yang telah dilapisi oleh berbagai macam zat kimia itu, tidaklah bisa disebut sebagai film karena gambar yang dibuat, tercetak pada lempengan itu juga. Sedangkan definisi film adalah media yang menyimpan gambar negatif, untuk kemudian diproses agar bisa tercetak pada media lain.

Adapun film seperti yang kita kenal sekarang ini, ditemukan oleh George Eastman, pendiri dari perusahaan Kodak, pada tahun 1884. Film jenis pertama ini berupa kertas yang diolesi dengan jel khusus yang kering. Baru pada tahun 1889, Eastman berinovasi dengan membuat film berbahan plastik transparan. Film ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar, yaitu plastik khusus yang dicampur dengan nitrat dan kapur barus.


'Film' yang umum digunakan

 

 Kamera kodak pertama

Pengembangan pun terus dilakukan, film yang lebih modern dan biasa kita gunakan terdiri 3 hingga 20 lapisan, dan merupakan campuran dari berbagai bahan kimia. Adapun unsur-unsur yang terdapat pada film itu akan menentukan sensitifitas, kontras, resolusi dan efek-efek lain pada foto yang dibuat.

Menjelang akhir abad 20, muncul „film‟ jenis baru.Film baru itu adalah film elektronik (media penyimpanan data) yang digunakan pada kamera digital. Karena lebih murah dan bisa digunakan berulang-ulang, kini orang lebih memilih untuk memanfaatkan fotografi digital dan film elektronik tadi. Hasilnya pun bisa menyamai bahkan melebihi kualitas dari foto yang dihasilkan film konvensional.


4. Fotografi Digital

Fotografi digital merupakan salah satu inovasi terbaik dalam dunia fotografi. Kehadirannya telah mengubah paradigma masyarakat yang menganggap bahwa fotografi adalah suatu bidang yang mahal dan sulit untuk dikuasai. Fotografi digital benar-benar bisa memberikan kepraktisan dan kemudahan bagi setiap orang untuk membuat sebuah foto yang bagus. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan beragam fitur untuk membuat foto yang baik, muncul sebuah ungkapan bahwa “setiap orang bisa menjadi fotografer profesional”.

Bila ditelusuri dari sejarahnya, maka kita akan kembali ke tahun 1960an. Di mana dunia sedang mengalami revolusi besar-besaran di bidang teknologi. Eugene F. Lally, seorang teknisi dari Jet Propulsion Laboratory adalah orang pertama yang mencetuskan ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. Saat itu tujuannya adalah untuk mempermudah pengiriman foto secara langsung dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat.

Pada tahun 1970an, dunia jurnalistik turut mempengaruhi kemunculan kamera digital. Saat itu, terdapat sebuah tuntutan untuk menghadirkan foto dari suatu peristiwa yang terjadi, secepat mungkin. Maka digunakanlah media pemindai foto (scanner). Sebuah foto dipindai menjadi data elektronik, kemudian dikirimkan melalui jalur telepon. Akan tetapi, cara ini juga masih dianggap merepotkan, karena terjadi penurunan kualitas gambar yang cukup signifikan dan proses pengiriman foto pun masih memerlukan waktu yang relatif lama.


Kamera Digital Model Pertama


Untuk menjawab persoalan ini, diperlukan suatu kamera yang bisa secara langsung menciptakan foto yang berupa data elektronik. barulah pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital. Kamera yang dibuatnya, menggunakan sensor CCD sebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.

Walaupun kamera digital model pertama ini masih belum praktis dan belum sepenuhnya menjawab persoalan-persoalan yang terjadi, tapi alat ini telah menjadi awal mula dari kemudahan dan kepraktisan teknologi fotografi digital yang kita nikmati sekarang ini. Setelah penemuan dari kamera digital model pertama, kamera-kamera digital selanjutnya terus bermunculan dengan perbaikan perbaikan dari model sebelumnya, dengan berbagai fitur serta kemampuan yang baru.



TUGAS INDIVIDU
Jelajah Sejarah Fotografi (Membuat Infografis Garis Waktu)
Tujuan:
Siswa dapat memahami perkembangan sejarah fotografi dari masa ke masa secara kronologis dan visual.
Petunjuk Kegiatan:
A. Buatlah sebuah infografis garis waktu (timeline) tentang sejarah perkembangan fotografi, mulai dari:
a. Kamera Obscura (336 SM)
b. Penemuan Kamera Foto (1839)
c. Penggunaan Film oleh Kodak (1888)
d. Fotografi Digital (1975–sekarang)

B. Tuliskan nama tokoh, tahun penemuan, dan teknologi kunci yang dikembangkan.
C. Gunakan aplikasi desain grafis sederhana seperti Canva, Google Slides, atau PowerPoint.
D. Tambahkan ilustrasi atau gambar pendukung (boleh hasil unduhan bebas hak cipta atau gambar buatan sendiri).

Catatan:
 Infografis dalam bentuk digital (PDF/JPG) atau cetak ukuran A4.